Love in Game mengeksplorasi dinamika hubungan yang berawal dari dunia maya dan tantangannya ketika dibawa ke dunia nyata. Cerita ini berpusat pada Livy, seorang mahasiswi yang juga dikenal sebagai gamer populer di sebuah platform daring. Di dalam permainan, ia dikenal dengan persona yang ceria dan tangguh.
Suatu hari, saat sedang asyik bermain, ia bertemu dengan sesama pemain bernama Prince. Interaksi mereka di dalam game berjalan lancar dan penuh kecocokan. Keduanya sering bermain bersama, membangun strategi, dan berbagi cerita melalui fitur obrolan. Seiring waktu, kedekatan virtual ini menumbuhkan benih-benih perasaan di hati Livy. Ia merasa nyaman dan terkoneksi dengan Prince, meskipun belum pernah bertemu langsung. Rasa penasaran dan harapan pun tumbuh, membayangkan bagaimana sosok Prince di kehidupan nyata.
Akhirnya, kesempatan untuk bertemu pun tiba. Namun, pertemuan pertama mereka di dunia nyata tidak berjalan semulus interaksi mereka di dunia game. Livy mendapati bahwa Prince di kehidupan nyata memiliki kepribadian yang mungkin sedikit berbeda dari bayangannya, begitu pula sebaliknya. Ekspektasi yang terbangun selama interaksi virtual kini diuji oleh realitas.
Love in Game menyoroti bagaimana persona daring seseorang bisa berbeda dengan kepribadian aslinya, serta tantangan dalam menerjemahkan koneksi virtual menjadi hubungan nyata. Konflik muncul dari perbedaan karakter, kesalahpahaman, dan adaptasi yang harus dilakukan keduanya untuk menjembatani dunia game dan dunia nyata mereka. Akankah perasaan yang tumbuh di dunia maya cukup kuat untuk bertahan menghadapi kompleksitas hubungan di dunia nyata? Film ini menyajikan dinamika percintaan remaja modern yang dipengaruhi oleh teknologi dan interaksi digital, dibalut dengan nuansa ringan dan relatable.